Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Tak Ada Pemisahan Pria dan Wanita di Pantai Santen

Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menegaskan sampai saat ini tidak pernah sekalipun mengeluarkan aturan untuk memisahkan pengunjung pria dan wanita di Pantai Santen. Bahkan, papan petunjuknya pun sudah tidak ada sejak 2017 lalu atau sudah lebih dari dua tahun.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda menyebut Pantai Santen juga tidak dipromosikan lagi, setelah kedatangan Raja Salman ke Bali, pertengahan Maret 2017 lalu. Tidak ada event yang mengangkat Pantai Santen dan Wisata Halal di sana. Karena itu, menurut dia, aneh jika menjadikan isu Pantai Santen dengan proses arabisasi itu sebagai isu.

“Saya tegaskan lagi, bahwa saat itu, hanya untuk gimmick marketing! Untuk menangkap peluang baru, wisatawan keluarga Arab Saudi, yang spending-nya paling besar. Pas dengan momentum Raja Salman Arab Saudi ke Indonesia,” ungkap Bramuda dalam keterangannya, Sabtu (6/7/2019).

Saat itu, kata dia, Pemkab Banyuwangi cepat mengambil momentum yang belum tentu datang dua kali itu. Pihaknya melangkah cepat, mencari perhatian publik, ketika semua media, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi, sedang memperbincangkan hubungan kedua negara, termasuk di sektor pariwisata.

“Dua tahun silam itu, 2017, adalah momentum bagus! Kita ini harus cepat bergerak di saat timing yang pas. Sekaligus, saat yang tepat untuk menata ulang Pantai Santen yang saat itu image nya kurang bagus, kurang bersih, kurang terawat,” jelas Bram, yang sungkan menyebutkan bahwa Pantai Santen saat itu menjadi tempat prostitusi.

Menurutnya, ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Di internal ada perbaikan destinasi atau produk pariwisatanya. Bramuda menyesalkan tulisan dan framing yang diviralkan melalui media sosial. Banyuwangi, lanjutnya, tengah bersusah payah berjuang untuk menjadi seperti sekarang, pariwisata maju, ekonomi bergerak, dan investasi terus berkembang.

Menurut Bramuda, informasi mengenai Pantai Santen yang beredar di media sosial sangat sepihak. Karena tidak pernah ada konfirmasi atau penjelasan dari pihak terkait.

“Saya rasa harus diluruskan. Karena tidak pernah ada kebijakan dari Pemda Banyuwangi yang mengatur masalah pemisahan pria dan wanita di Pantai Santen. Tidak pernah ada peraturan mengenai hal itu,” katanya.

Bramuda menilai, kondisi yang ada di lapangan jauh berbeda. “Tidak ada sign. Atau papan petunjuk yang mengatakan ada pemisahan antara pria dan wanita di Pantai Santen. Kita tidak membuat hal-hal seperti itu. Tulisan yang dimuat di media sosial itu dan sudah lama diganti, sudah lama kami turunkan,” paparnya.

Bram menambahkan, tidak pernah ada sosialisasi mengenai Pantai Santen yang menjadi syariah. Apalagi, memisahkan antara pengunjung pria dan wanita. Tidak ada grand design yang menuju ke arah sana.

Menurutnya, Pemda Banyuwangi memang memberikan perhatian kepada Pantai Santen. Khususnya saat Raja Arab Saudi, Raja Salman, berkunjung ke Bali. Menurutnya, Pemda Banyuwangi menyiapkan sebuah trik marketing untuk menarik perhatian.

“Sebagai daerah yang dekat dengan Bali tentu kita berharap Banyuwangi ikut dilirik saat Raja Salman berkunjung ke sana. Inisiatif kita adalah memasarkan dan mencuri perhatian dengan Patai Santen. Tapi bukan kemudian memisahkan atau menjadikan pantai ini syariah,” katanya.

“Momentum itu kita gunakan untuk mengangkat Pantai Santen. Sekaligus, memperbaiki image pantai agar dikunjungi banyak orang. Dan bersih. Dan tahun 2017 keinginan itu tercipta. Sukses. Pantai Santen bersih, dan dikunjungi banyak orang, dan ada sisi uniknya,” paparnya.

Setelah pembenahan itu, Pemda telah menyerahkan kembali pengelolaan Pantan Santen ke pemilik pantai, yakni Kodim. Seluruh manajemen dikelola Kodim. Pemda juga tidak mengeluarkan peraturan apapun terkait dengan pantai itu. Tidak ada peraturan soal pemisahan.

“Apakah ini by design, kalau lihat sejarahnya, tidak sama sekali. Sekali lagi, itu hanyalah trik marketing saat Raja Salman datang ke Bali. Dan sudah dicopot sejak tahun lalu. Makanya kalau kemudian papan itu dipermasalahkan sekarang, rasanya sudah tertinggal. Dan itu akibat tidak pernah ada konfirmasi,” paparnya.

Sementara Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Indonesia, Anang Sutono, menilai masih banyak pihak yang belum paham dengan konsep wisata halal. Menurutnya, wisata halal disebut sebagai layanan tambahan. Hal ini lebih terkait pada pengembangan 3A (amenitas, atraksi, dan aksesibilitas) wisata. 3A adalah juga fondasi untuk mengembangkan pariwisata di Indonesia.

“Wisata halal itu merupakan konsep pengembangan dimensi baru. Sasarannnya adalah komunitas dalam pariwisata. Lebih spesifik lagi, pariwisata itu ditujukan kepada siapa, pelanggan yang mana,” katanya.

Wisata halal di Indonesia semakin berkembang belakangan ini karena adanya lonjakan wisatawan Muslim. Semua wisatawan muslim memiliki kebutuhan. Dan destinasi berlomba menyediakan kebutuhan mereka, apa yang dibutuhkan dan apa yang mereka inginkan. Justru, Anang melihat hal ini merupakan peluang. pelaku wisata bisa menggarapnya.

Sejumlah lembaga menyebutkan bahwa Muslim Traveller akan mencapai 160 juta dengan pergerakan ke seluruh penjuru dunia. Jumlah ini menjadikan wisatawan muslim sebagai pasar yang luar biasa besar.

“Jadi konsep yang ditempuh adalah melengkapi fasilitas untuk wisatawan muslim. Bukan menjadi sebuah destinasi menjadi destinasi muslim. Pengertian itu salah. Sayangnya, pengertian yang salah ini yang menyebar,” kata Anang.

 

Respond For " Tak Ada Pemisahan Pria dan Wanita di Pantai Santen "